Minggu, 04 April 2010
TELUK DIANTARA DUA
Pernah kau sebut bulan lalu
Tentang cerita sungai yang tak begitu panjang…
Kita sekadar menyapa subuh
Dari lebam mata kusut kita
Aura ufuk masih menyelimuti
Duka panjang yang berkepanjangan
Seusai kau menyuguhkan sepiring do’a
Setelah kau mencelupkan tasbih-tasbih dzikir
Pada sungai keabadian…
Disini aku hanya duduk tafakur
Menghitung jari zaman
Yang entah tulang-tulangnya
Bercopotan jadi puing…
Kuharap kau bicara padaku
Walau hanya sekedar diam
Atau kau langsung sapa saja naluri ini
Entah dari senyum,
Atau dari air mata darahmu
Sudah,
Kita cukup bicara cinta
Aku muak bicara perasaan
Sebab tak ada hati, tak ada rasa
Yang pantas diperbincangkan
Kau juga tak mau menjawab
Sudahlah,
Bukankah juga terlalu banyak manusia
Yang tak mau bicara tentang kebenaran ?
Kamis
31 Juli 2008
Tentang cerita sungai yang tak begitu panjang…
Kita sekadar menyapa subuh
Dari lebam mata kusut kita
Aura ufuk masih menyelimuti
Duka panjang yang berkepanjangan
Seusai kau menyuguhkan sepiring do’a
Setelah kau mencelupkan tasbih-tasbih dzikir
Pada sungai keabadian…
Disini aku hanya duduk tafakur
Menghitung jari zaman
Yang entah tulang-tulangnya
Bercopotan jadi puing…
Kuharap kau bicara padaku
Walau hanya sekedar diam
Atau kau langsung sapa saja naluri ini
Entah dari senyum,
Atau dari air mata darahmu
Sudah,
Kita cukup bicara cinta
Aku muak bicara perasaan
Sebab tak ada hati, tak ada rasa
Yang pantas diperbincangkan
Kau juga tak mau menjawab
Sudahlah,
Bukankah juga terlalu banyak manusia
Yang tak mau bicara tentang kebenaran ?
Kamis
31 Juli 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar